Manajer Pengelola dan Pemimpin Pemberdaya

August 25th, 2008 by retarigan

Bennis, W. G. mengatakan bahwa manajer adalah orang yang melakukan dengan cara yang benar; sedangkan pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang benar. Dengan kata lain manajer selalu berpikir tentang tata cara maupun langkah-langkah yang harus diikuti untuk mencapai sesuatu. Sedangkan pemimpin lebih menitikberatkan hal yang seharusnya dilakukan. Bukan sekedar bagaimana cara melakukannya melainkan mengapa dilakukan dan apa nilai yang didapatkan dengan melakukannya.

Selanjutnya Abraham Zaleznik mengungkapkan bahwa manajer lebih memikirkan mengenai bagaimana berbagai hal bisa dicapai dan para pemimpin lebih memikirkan mengenai apa makna hal-hal tersebut bagi orang-orang. Pemimpin dan manajer memiliki perbedaan dalam pandangan. Manajer cenderung untuk memandang pekerjaan sebagai proses untuk memungkinkan tercapainya hasil dengan memanfaatkan konbinasi antara orang dan gagasan, yang saling berinteraksi untuk membentuk strategi dan membuat keputusan-keputusan. Apabila manajer bekerja untuk membatasi jumlah pilihan, para pemimpin bekerja dengan arah yang berlawanan, untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan yang segar terhadap masalah-masalah yang sudah lama bercokol dan untuk membuka kesempatan untuk memasukkan pilihan-pilihan baru … Pemimpin menciptakan kegairahan dalam bekerja.

Dari kedua pemikir diatas jelas bahwa di dalam manajemen sumber daya manusia ada perbedaan besar antara seorang manajer dengan seorang pemimpin.

Dari pengamatan bertahun-tahun, ada pertanyaan yang timbul di benak saya, mengapa banyak perusahaan gagal mengelola sumber daya manusianya? Begitu banyak terjadi eksodus pegawai di sejumlah perusahaan. Padahal sesungguhnya, untuk era industri berbasis pengetahuan saat ini, sumber daya manusia merupakan salah satu faktor utama berhasilnya suatu organisasi, apakah itu organisasi pemerintah maupun swasta, terutama swasta yang bergerak dibidang jasa.

Dalam kenyataannya, ada bawahan yang selalu menghindar untuk berhadapan dengan sang manajer karena rasa takut. Juga ada bawahan yang tidak mau memberikan ide atau masukan bagi sang atasan, karena ide yang dia berikan tidak dianggap penting atau terkadang ide dari bawahan di klaim sebagai ide manajer bersangkutan ketika sang manajer menyampaikan ke manajer diatasnya.

Di kala lain, seorang atasan datang ke kantor, begitu dia membunyikan klakson mobilnya dari kejauhan, sejumlah anak buahnya pergi menjauhinya dan tidak mau berpapasan dengan sang atasan. Sesungguhnya atasan tersebut gagal menjadi seorang pemimpin. Dia hanyalah seorang manajer yang mampu memberdayakan orang-orang dibawahnya sebatas job description yang telah ditetapkan, tanpa nilai tambah. Tetapi bila kehadiran seorang atasan dirindukan oleh orang-orang yang dibawahinya, serta mampu memberdayakan orang-orangnya lebih dari kemampuan dasarnya, sesungguhnya dialah pemimpin pemberdaya. Karena kehadirannya selalu dibutuhkan oleh orang lain sebagai teman untuk berbagi sekaligus teladan untuk dipanuti.

Seorang penulis tentang kepemimpinan, John Marrioti, menyatakan orang-orang yang ‘dikelola’ dengan baik mungkin akan kehilangan kecenderungan untuk memberikan daya upaya yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan – kecuali jika mereka memiliki pemimpin-pemimpin yang baik. Para pemimpin yang hebat bisa menghasilkan hasil-hasil yang luar biasa dari orang-orang biasa. Manajer-manajer yang hebat hanya akan mendapatkan hasil yang direncanakan dengan baik dan kadang-kadang terlaksana dengan baik, tetapi jarang mendapatkan keberhasilan besar yang muncul dari semangat dan komitmen antusias yang diinspirasikan oleh Kepemimpinan sejati. Pemimpin adalah arsitek. Manajer adalah pembangun. Keduanya diperlukan, tetapi tanpa adanya arsitek, tidak ada hal yang spesial untuk dibangun.

Untuk menjadi seorang manajer pengelola, seseorang hanya dibutuhkan berpikir dengan otak atau logika. Dia akan berhasil mengelola para pekerja sampai batas tertentu dengan kekuasaan yang dimilikinya. Namun untuk menjadi seorang pemimpin sejati dibutuhkan lebih dari sekedar berpikir dengan logika. Dia harus mampu melihat yang tersembunyi, mampu membaca yang tidak tertulis, dan mampu mendengar yang tidak bersuara. Seorang pemimpin pemberdaya harus mampu berpikir dengan ‘hati’.

Penulis,
Riswan E. Tarigan
Konsultan TI & Pemerhati Masalah Kepemimpinan

Referensi:
Bennis, .W. G., An Invented Life: Reflections on Leadership and Change. Reading, MA: Addison-Wesley, 1993.
Marrioti, J., Leadership Matters, Industry Week, 247, 70 +, 1998.
Zaleznik, A., Managers and Leaders: Are They Different?, Harvard Business Review, 55(5), 67-78, 1977.

Petaniku Sayang, Petaniku Malang

August 25th, 2008 by retarigan

Di era 80-an negeri ini dikenal dengan sebagai lumbung
padi. Pemimpinnya mendapat penghargaan sebagai orang yang berhasil memimpin
negeri dalam swasembada pangan hingga dapat membantu negeri lain menikmati
hasil pertanian negeri ini.

Namun, masa itu sudah berlalu …

Kini negeriku menjadi pengimpor
beras dari negeri yang dulu belajar pertanian ke negeri ini. Aku bertanya dalam
hati,

Negeriku ini negeri pertanian, namun mengapa sebagian petani
menjadi kaum marginal?

Tanahku ini tanah pertanian, namun mengapa petani tidak mau
bertani?

Sekali waktu aku bertanya kepada bapakku, “Bapak, kenapa
tidak mau menaman pagi lagi?”. Jawabnya, “Anakku, bila aku menanam padi,
hasilnya tidak sebanding dengan pengorbanan yang aku berikan.”

Seburuk itukah keadaanya? Batinku. Mengapa bapakku yang
sejak usia muda berprofesi sebagai petani tidak mau lagi menanam padi.
Mungkinkah dia sudah malas? Ataukah memang keadaan dan kebijakan yang
membuatnya menjadi seolah-olah malas?

Dimana para pemimpinku? Masih adakah sedikit perhatian
bagi para petani di desa agar mampu dan mau bertahan sebagai petani?

Aku hanyalah anak petani, yang mencoba berkeluh kesah
kepada ilalang yang bergoyang. Petaniku sayang, petaniku malang.

Penulis,

Riswan E. Tarigan

Konsultan TI & Pemerhati Masalah Pertanian

Ijasah Sarjana Bukan Jaminan

August 25th, 2008 by retarigan

Orangtuaku pernah berpesan,
“Anakku, kejarlah pendidikan setinggi-tingginya, agar keadaan hidupmu lebih
baik daripada kami orangtuamu.”

Dengan pesan yang terus terngiang
ditelingaku, aku belajar semampuku untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin
yang dapat aku gapai.

Seiring dengan perjalanan waktu,
banyak pengalaman yang aku hadapi dan aku jalani.

Memang pendidikan tinggi itu
penting. Ijasah sarjana pun diperlukan. Namun semua itu bukanlah jaminan
seseorang akan menjadi lebih baik dalam hidupnya.

Masih banyak persyaratan lain
yang harus dipenuhi untuk menjadi lebih baik. Karena di zaman sekarang, banyak
orang justru menganggur dan hidupnya lebih buruk setelah mendapatkan ijasah
yang lebih tinggi.

Dalam kasus tertentu ada sarjana
yang gagal mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya karena ia
merasa dia berpengetahuan dan berijasah. Namun ijasah belumlah menjamin
seseorang itu memberikan nilai bagi orang lain.

Penulis,

Riswan E. Tarigan

Konsultan TI & Pemotivator

KATA-KATA BIJAK DARI CEO KELAS DUNIA

May 19th, 2008 by retarigan

Takut akan kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan
untuk tidak mencoba sesuatu.Kepemimpinan adalah Anda sendiri dan apa yang Anda
lakukan.
[Frederick
Smith, Pendiri Federal Express]

Kejujuran adalah batu penjuru dari segala kesuksesan,
Pengakuan adalah motivasi terkuat.Bahkan kritik dapat membangun rasa percaya diri saat
"disisipkan" diantara pujian.
[May
Kay Ash, Pendiri Kosmetik Mary Kay]

Jika Anda dapat memimpikannya, Anda dapat melakukannnya.Ingatlah, semua ini diawali dengan seekor tikus, Tanpa
inspirasi…. kita akan binasa.
[Walt
Disney, Pendiri Walt Disney Corporation]

Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan yang
sangat buruk.
[P.T.
Barnum, Anggota Pendiri Sirkus Barnum & Bailey]

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam
genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak. [John
Naisbitt, Pemimpin Umum Naisbitt Group]

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat.Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.[Thomas
A. Edison, Penemu dan Pediri Edison Electric Light Company]

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup
tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka.
[Alexander
Graham Bell, Penemu dan Mantan Presiden National Geographic Society]

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan Anda. Jika pekerjaan
Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan pernah hilang.
[Gordon
Van Sauter, Mantan Presiden CBS News]

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima
tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku
yang Anda baca. [Charles
"Tremendeous" Jones, Presiden Life Management Services, Inc.]

Yang terpenting dalam Olimpiade bukanlah kemenangan,
tetapi keikutsertaan … Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan namun
bagaimana bertanding  dengan baik.
[Baron
Pierre de Coubertin, Pendiri & Presiden pertama Komite Olimpiade
International]

Kebahagiaan biasanya merupakan hasil dari sebuah
pengorbanan.

Sebelum tidur, bertanyalah, kebaikan apa yang sudah
kulakukan hari ini?

Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now

May 19th, 2008 by retarigan

Sepuluh tahun yang lalu, kalau
saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab.
Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau
ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal
terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil
juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah
hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.

Sukses bagi saya adalah mindset.
Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula
perjalanan. Success is about being dan becoming.

Berani dan overconfident
kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia
"sukses" di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset
seperti ini.

Apakah Anda perlu menjadi juara
tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk
disebut "sukses"? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus
SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset "orang
sukses" bisa jadi hanyalah seorang salesman saja.

Ambillah contoh Bill Porter,
seorang salesman door-to-door dari Portland, Oregon yang terlahir dengan
cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun
dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya
bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit
untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca www.billporter.com, filem
Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh
Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke
rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori "sukses
secara finansial."

Namun, bagi saya, Bill Porter
adalah salah satu orang paling sukses di dunia yang amat sangat saya kagumi.
Salah satu cita-cita saya adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari.

Nah, lantas apa resep 10 tip
sukses concoction ala Jennie?

Satu, bersyukurlah atas hari ini.
"Just to be alive is a grand thing," kata Agatha Christie, salah satu
novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa
juntrungan. Jalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill
Porter. Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Anda
inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.

Dua, belajarlah seakan-akan Anda
akan hidup selamanya, hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas
Gandhi pernah berkata demikian, "Live as if you were to die tomorrow,
learn as if you were

to live forever." Belajar
terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yang memerlukan effort
maupun effortlessly.

Tiga, setiap ketrampilan pasti
ada penggunanya. Ini saya dapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita
blonda dari San Diego. Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya,
"There are

all kinds of writers, there are
all kinds of readers." Ketika saya down karena merasa incompetent
bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa
setiap jenis penulis pasti

ada pembacanya (niche). Find your
niche, so you find your place in the world.

Empat, bukalah jalan sendiri,
orisinil. Ralph Waldo Emerson once said, "Do not go where the path may
lead, go instead where there is no path and leave a trail." Jangan latah
mengikuti orang lain, dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.

Lima, belajar mencintai apa yang
Anda punyai, bukan berangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever
you have at hand, impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan
instrumen yang kasat mata saat ini juga.

Enam, lihat apa yang kelihatan
dan lihat apa yang belum kelihatan. Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa
yang Anda tuju. Seringkali, apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk
sukses Anda. Begitu kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.

Tujuh, telan kepahitan hidup dan
bersiap-siaplah dalam menyongsong hari baru. Setiap hari adalah hari baru.
Bangunlah tiap pagi dengan hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari
itu. Be excited, be courageous to start the day.

Delapan, semakin banyak Anda
memberi, semakin banyak Anda akan menerima. The more you give, the more you get
in return. Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations
atau

publicity. Namun, dalam kehidupan
sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya
sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas,
tidak

terbatas uang dan materi),
semakin besar penghargaan dan berkat yang kita terima.

Sembilan, jadilah mentor diri
sendiri. What would Oprah do? Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak
memilih Nabi atau pembesar negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang
telah

membalikkan nasibnya sendiri menjadi
salah satu orang berpengaruh di dunia.

Sepuluh, saya eksis dengan maupun
tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri
sendiri bahwa hidup ini bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada
saat ini juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di
Farewell Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I
have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang
terakhir.

Ingatlah sukses bukanlah tujuan,
bukan pula perjalanan. Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum
(saya berpikir maka saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).

Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right
Here, Right Now by Jennie S. Bev. Jennie S. Bev is a prolific author and
co-author of 17 books and over 850 articles published in the United States,
Canada, UK,

France, Germany, Singapore and
Indonesia. She is based in scenic Northern California where she resides with
her husband.

Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 06

October 6th, 2007 by retarigan

Kouzes: "Sebuah perbedaan besar antara manajemen dan kepemimpinan bisa ditemukan dari akar kata yang menjadi asal dari kata-kata tersebut dalam bahasa Inggrisnya, perbedaan antara kata yang maknanya adalah menangani sesuatu dan yang maknanya adalah untuk mencapai berbagai tujuan.."

Carter-Scoot, C. (1994)

Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 05

October 6th, 2007 by retarigan

"… kata bahasa Inggris, lead, dari akarnya, berarti ‘pergi, melakukan perjalanan, memandu.’ Kepemimpinan dengan demikian memiliki nuansa kinestetik, suatu nuansa pergerakan … [Para pemimpin] mulai pencarian susunan keteraturan yang baru. Mereka berpetualang ke wilayah-wilayah yang belum dijelajahi sebelumnya dan memandu kita untuk mencapai tujuan-tujuan yang baru dan belum kita kenal. Sebaliknya, kata bahasa Inggris manage berasal dari akar kata yang berarti ‘tangan.’ Pada intinya, mengelola (to manage) adalah ‘menangani’ berbagai hal, mempertahankan keteraturan, serta melakukan pengaturan dan pengendalian. Perbedaan yang penting antara manajemen dan kepemimpinan sudah tampak dari akar kata yang menjadi asal dari kata-kata tersebut - perbedaan antara kata yang maknanya adalah menangani sesuatu dan yang maknanya adalah untuk mencapai berbagai tujuan."

Kouzes, J. M. & Posner, B. Z. (1995)

Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 04

October 6th, 2007 by retarigan

"Paling tidak ada enam segi perbedaan antara pemimpin dan pemimpin/manajer dengan cara manajer pada umumnya:

  1. Mereka berpikir dalam jangka yang lebih panjang …
  2. Dalam berpikir mengenai unit yang mereka pimpin, mereka juga memperhitungkan keterkaitannya dengan realitas-realitas yang lebih besar …
  3. Mereka menjangkau dan memengaruhi konstituen melampaui wilayah kewenangan mereka, melampui batas-batas …
  4. Mereka meletakkan penekanan yang besar pada hal-hal yang tak tampak seperti visi, nilai-nilai, dan motivasi dan memiliki pemahaman intuitif mengenai elemen-elemen non rasional dan bawah sadar yang terdapat dalam interaksi antara pemimpin-konstituen.
  5. Mereka memiliki kemampuan politis untuk menghadapi tuntutan-tuntutan yang saling berlawanan dari berbagai konstituen.
  6. Mereka berpikir dengan dasar pembaruan terus menerus …

Manajer lebih terikat secara ketat pada sebuah organisasi tertentu daripada seorang pemimpin. Bahkan sebenarnya, pemimpin mungkin tidak punya organisasi sama sekali."

Gardner, J. W. (1990)

Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 03

October 6th, 2007 by retarigan

"Pemimpin menaklukkan konteks - kondisi sekitar yang tak dapat diduga, turbulen, membingungkan dan kadang-kadang tampak berkonspirasi melawan kita dan sudah pasti akan mencekik kita jika kita biarkan begitu saja - sedangkan manajer menyerah terhadap hal itu. Manajer mengelola; pemimpin berinovasi. Manajer adalah salinan; pemimpin adalah benda aslinya. Manajer mempertahankan; pemimpin mengembangkan. Manajer berfokus pada sistem dan struktur; pemimpin berfokus pada manusia. Manajer bergantung pada kontrol; pemimpin mengilhami terbentuknya kepercayaan. Manajer memiliki jangkauan pandang yang pendek; pemimpin memiliki perspektif jarak jauh.  Manajer menanyakan bagaimana dan kapan; pemimpin bertanya apa dan mengapa. Manajemen memusatkan pandangannya pada hasil masa lalu; pemimpin memusatkan pandangannya pada cakrawala masa depan. Manajer meniru; pemimpin menciptakan. Manajer menerima kondisi yang ada; pemimpin menantang kondisi itu. Manajer adalah serdadu klasik yang baik; pemimpin adalah dirinya sendiri. Manajer melakukan berbagai hal dengan cara yang benar; pemimpin melakukan berbagai hal yang benar."

Carter-Scott, C. (1994)

Pernyataan: Manajemen lawan Kepemimpinan 02

October 6th, 2007 by retarigan

"Pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang benar; manager adalah orang yang melakukan dengan cara yang benar."

Bennis, W.G. (1993)